A. DEFINISI ETIKA DAN BISNIS SEBAGAI
SEBUAH PROFESI
1. Hakikat
Mata Kuliah Etika Bisnis
Menurut
Drs. O.P Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas asumsi
– asumsi bisnis baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.
2.
Definisi
Etika dan Bisnis
Etika
berasal dari kata Yunani ethos, yang
dalam bentuk jamaknya (ta etha)
berarti ‘adat istiadat’ atau ‘kebiasaan’. Dalam pengertian ini etika berkaitan
dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat
atau kelompok masyarakat. Ini berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata
cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut
dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke
generasi lain. Kebiasaan ini lalu terungkap dalam perilaku berpola yang terus
berulang sebagai sebuah kebiasaan.
Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah
tukar menukar, jual beli, memproduksi memasarkan, bekerja memperkerjakan, dan
interaksi manusiawi lainnya, dengan maksud memperoleh untung.
1)
Etiket Moral, Hukum dan Agama
Etiket berasal dari bahasa Prancis
yaitu “ ethiquete “ yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama
manusia. Sedangkan etika itu berasal dari bahasa Yunani atau latin berarti
falsafah moral dan merupakan bagaimana cara hidup yang baik dan benar dilihat
dari sosial, budaya dan agama. Walaupun demikian keduanya juga memiliki
kesamaan yaitu:
·
Keduanya mempunyai objek yang sama yaitu
perilaku atau tindak tanduk manusia.
·
Keduanya mengatur perilaku manusia
secara normative, yang berarti bahwa perilaku manusia dan apa yang harus
dilakukan atau tidak boleh dilakukannya.
2)
Klasifikasi Etika
Menurut Buku yang berjudul “Hukum dan
Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H.,M.M, Etika dapat di
klasifikasikan menjadi :
·
Etika Deskriptif
Etika
Deskriptif yaitu Etika dimasna objek yang dinilai adalah sikap dan perilaku
manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana adanya. Nilai dan pola
perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercermin ada situasi dan kondisi yang
telah membudaya di masyarakat secara turun menurun.
·
Etika Normatif
Etika
Normatif yaitu sikap dan perilaku manusia atau masyarakat sesuai dengan norma
dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan
perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi
acuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.
·
Etika Deontologi
Etika
Deotologi yaitu etika yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban untuk
berbuat baik terhadap orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya
dilihat dari akibat dan tujuan yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau
aktivitas, tetapi dari sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat
kebaikan terhadap masyarakat atau pihak lain.
·
Etika Teleologi
Etika
Teleologi adalah etika yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para
pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya
sesuatu yang dicapai adalah sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik.
Baik ditinjau dari kepentingan pihak yang terkait, maupun dilihat dari
kepentingan semua pihak.
·
Etika Relatifisme
Etika
Relatifisme adalah etika yang dipergunakan dimana mengandung perbedaan
kepentingan antara kelompok pasrial dan kelompok universal atau global. Etika
ini hanya berlaku bagi kelompok pasrial, misalnya etika yang sesuai dengan adat
istiadat lokal, regional dan konvensi, sifat dan lain-lain. Dengan demikian
tidak berlaku bagi semua pihak atau masyarakat yang bersifat global.
3)
Konsepsi – Konsepsi Etika
Istilah
“etika” berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal
mempunyai arti kebiasaan – kebiasaan tingkah laku manusia, adat, akhlak, watak,
perasaan, sikap, dan cara berfikir. Dalam bentuk jamak ta etha mempunyai adat
kebiasaan. Menurut filsuf Yunani Aristoteles, istilah etika sudah dipakai untuk
menunjukkan filsafat atau moral. Sehingga berdasarkan asal usul kata, maka
etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan.
B.
PRINSIP
ETIKA DALAM BISNIS SERTA ETIKA DALAM LINGKUNGAN
1.
Menurut Sonny Keraf (1998) Menjelaskan,
bahwa prinsip-prinsip etika bisnis
adalah sebagai berikut:
Ø Prinsip
Otonomi : Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak
berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
Ø Prinsip
Kejujuran : Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara
jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak
didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat
perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa
dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern
dalam suatu perusahaan.
Ø Prinsip
Keadilan : menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan
aturan yang adil dan sesuai kriteria rasional objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Ø Prinsip
saling menguntungkan (mutual benefit principle) : menuntut agar bisnis
dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
Ø Prinsip
Integritas Moral : terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri
pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap
menjaga nama baik pimpinan atau orang-orangnya maupun perusahaanya.
2.
Hormat pada Diri Sendiri
3.
Merupakan prinsip tindakan yang
dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu sendiri. Dalam aktivitas bisnis
tertentu kemasyarakat merupakan cermin diri bisnis yang bersangkutan. Namun
jika bisnis memberikan kontribusi yang menyenangkan bagi masyarakat, tentu
masyarakat memberikan respon sama. Sebaliknya jika bisnis memberikan image yang
tidak menyenangkan maka masyarakat tentu tidak menyenangi terhadap bisnis yang
bersangkutan. Namun jika para pengelola perusahaan ingin memberikan respect
kehormatan terhadap perusahaan, maka lakukanlah respect tersebut pada pihak
yang berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung. Segala aspek
aktivitas perusahaan yang dilakukan oleh semua armada didalam perusahaan,
senantiasa diorientasikan untuk memberikan respect kepada semua pihak yang
berkepentingan kepada perusahaan. Dengan demikian, pasti para pihak ini akan
memberikan respect yang sama terhadap perusahaan.
4.
Hak dan Kewajiban
Hak
merupakan klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu terhadap yang
lain atau terhadap masyarakat. Orang yang mempunyai hak yang bisa menuntut (dan
bukan saja mengharapkan atau menganjurkan) bahwa orang lain akan memenuhi dan
menghormati hak itu.
Kewajiban
berarti suatu keharusan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok
dengan mengikuti kaidah serta aturan yang ada dan biasanya dimula oleh sesuatu
yang memiliki hak kepada seseorang atau kelompok tersebut.
5.
Teori Etika Lingkungan
Masalah sekitar
lingkungan hidup baru disadari sepenuhnya dalam tahun 1960-an. Sekaligus
disadari pula bahwa masalah itu secara langsung atau tidak langsung disebabkan
oleh, khususnya oleh cara berproduksi dalam industry yang berdasarkan ilmu dan
berteknologi maju. Tentu banyak keluhan tentang pengaruh negative dari industry
atas lingkungan hidup. Dalam sastraan dapat kita baca bagaimana penghuni
disekitar pabrik-pabrik diasosiasikan dengan asap, jelaga, dan bau yang tidak
sedap.
6. Prinsip
Etika Dilingkungan Hidup
1)
Lingkungan hidup sebagai “the commons”
Dalam
zaman modern, dengan bertambahnya jumnlah penduduk sistem ini tidak bisa
dipertahankan lading umum itu diprivatisasi dengan menjualnya kepada penduduk
perorangan. Bagi masyarakat yang bersangkutan kejadian ini merupakan suatu
perubahan yang besar. Menurut Hardin, masalah lingkungan hidup dan masalah
kependudukan dapat dibandingkan dengna proses menghilangkan the commons.
2)
Lingkungan hidup tidak lagi
eksternalitas
Dengan
demikian serentak juga harus ditinggalkan pengandalan kedua tentang lingkungan
hidup dalam bisnis modern, yakni bahwa sumber daya alam itu tidak terbatas. Mau
tidak mau harus kita akui lingkungan hidup dan komponen-komponen tetap terbatas
walaupun barang kali tersedia dalam kapasitas yang besar.
3)
Pembangunan yang berkelanjutan
Jika
krisis lingkungan dipertimbangkan dengan serius, bagi ekonomi masih ada satu
konseksuensi lain yang sulit dihindarkan. Setelah dihadapi dengan masalah
lingkungan, kini banyak orang menjadi pernyataan apakah dogma ekonomi ini masih
dapat dipertahankan. Yang untuk pertama kali dimempersoalkan pertumbuhan
ekonomi terus menerus adalah kelompok cendikiawan yang dikenal dengan nama THE CLUB OF NOME. Pembangunan
berkelanjutan dapat memperdamaikan beberapa pandangan tentang hubungan antara
ekonomi dan lingkungan hidup yang selama ini tampak bertentangan dan sehingga
sulit untuk dijembatani. Pertentangan diantara mereka yang mendukung
pertumbuhan ekonomi dan mereka yang menolak dapat diperdamaikan, karena kalau
kita menyetujui prinsip pembanguna berkelanjutan, pertumbuhan tetap
dimungkinkan, asalkan untuk masa depan terbuka aspek ekonomi yang berkualitas
sama.
C.
MODAL
ETIKA DALAM BISNIS, SUMBER NILAI ETIKA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
ETIKA MANAJERIAL
Model Etika dalam Bisnis Carroll dan Buchollz
(2007:49) membagi tiga tingkatan manejemen dilihat dari cara para pelaku bisnis
dalam menerpakan etika dalam bisnisnya:
1.
Immoral Manajemen
Immoral
Manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan
prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada
umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud denga moralitas, baik
dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas
bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau
kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang
disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sadungan dalam menjalankan
bisnisnya.
2.
Amoral Manajemen
Tingkatan
kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral
manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe manajemen
seperti ini sebenarnya tidak tahu sama sekali etika atau moralitas. Ada dua
jenis lain manajemen tipe amoral yaitu:
1)
Manajer yang tidak sengaja berbuat
amoral (unintentional amoral manajer).
Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala
keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan
memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu merka akan menjalankan
bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi
etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka
tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan
atau pihak lain atau tidak. Tipikal manejer seperti ini biasanya lebih
berorientasi hanya pada hukum yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai
pedoman dalam beraktivitas.
2)
Tipe manajer yang sengaja berbuat
amoral.
Manajemen
dengna pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan,
namun terkadang secara sadar melanggar etika tersebut berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka misalnya ingin melakukan efisiensi dan
lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya
berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis mereka percaya bahwa
aktivitas bisnis berada diluar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan
moralitas.
3.
Moral Manajemen
Tingkatan
tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah
moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas
diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk perilaku dan
aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima dan
mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan
prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk
dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis
yang dijalankannya secara lega dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam
komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang
berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka
patuhi, sehingga aktivitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi
dari apa yang disebut sebagia tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu
melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan
aturan-aturan emas (golden role)
sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.
4.
Agama, Filosofi, Budaya dan Hukum
·
Agama
Etika
sebagai ajaran baik buruk, benar salah, atau ajaran tentang moral khususnya
dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber teutama dari ajaran
agama. Itulah sebebanya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi barat menunjuk
pada kitab injil (bible), dan etika ekonomi yang budi banyak menunjuk pada
taurat. Demikian pula etika ekonomi islam termuat dalam lebih dari seperlima
ayat-ayat yang dimuat dalam Al-Qur’an.
Etika
yang bersumber dari ajaran agama mengandung prisip yang berkaitan dengan nilai-nilai
kebenaran yang berkaitan sikaap dan perilaku yang dikasih tuhan.
Hans
kung (2005) menyebutkan pada intinya ada persamaan prinsip-prinsip nilai-nilai
dasar etika yang ada dalam ketiga agama Nabi Ibrahim ini yaitu :
-
keadialan : kejujuran, pemergunakan kekuatan untuk menjaga kebenaran
-
saling menghormati : cinta dan perhatian terhadap orang lain.
-
pelayanan : manusia hanya ‘pelayan’, ‘pengawas’ sumber-sumber alam.
-
kejujuran : kejujuran dan sikap dapat dipercaya dalam semua hubungan manusia,
dan integritas yang tinggi
Etika
bisnis islam.menjunjung tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan
keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan berkembang semangat
kekeluargaan (brotherhood). Misalnya
dalam perusahaan yang islami gaji karyawan dapat diturunkan jika perusahaan
benar-benar merugi dan karyawan juga mendapat bonus jika keuntungan perusahaan
meningkat. Buruh muda yang masih tinggal bersama orang tua dapat dibayar lebih
rendah, sedangkan yang sudah berkeluarga dan punya anak dapat dibayar lebih
tinggi dibanding rekan-rakannya yang muda.
·
Filosofi
Salah
satu sumber niali-nilai etika yang juga menjadi acuan dalam pengambilan
keputusan oleh manusia adalah ajaran-ajaran filosofi. Ajaran filosofi tersebut
bersumber dari ajaran-ajaran yang diwariskan dari ajaran-ajaran yang sudah
diajarkan dan berkembang lebih dari 2000 tahun yang lalu. Ajaran-ajaran ini
sangat rijik, komplek, yang menjadi tradisi klasik yang bersumber dari
berbagai-berbagai pemikiran pala filsof-filsof saat itu. Ajaran-ajaran ini
terus berkembang dari tahun ke tahun.
·
Hukum
Hukum
adalah pengkat aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka untuk
menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan
ekspektasi-ekspektasi etika yang diharapakan dalam masyarakat dan mencoba
mengatur serta mendorong pada perbaikan-baikan masalah-masalah yang dipadang
buruk atau tidak baik dalam masyarakat. Sebenarnya bila kita berharap bahwa
dengan hukum dapar mengantisipasi semua tindakan pelanggaran sudah pasti ini
menjadi suatu yang musthil. Karena biasanya hukum dibuat setelah
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam masyarakat.
·
Budaya
Referensi
penting lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai acuan etika bisnis adalah
pengalaman dan perkembangan budaya, baik budaya dari suatu bangsa maupun budaya
yang bersumber dari berbagai negara (cnackeen,1986). Budaya yang mengalami
transisi akan melahirkan nilai, aturan-aturan dan standar-standar yang diterima
oleh suatu komunitas tertentu dan selanjutnya diwujudkan dalam perilaku
seseorang, suatu kelompok atau suatu komunitas yang lebih besar.
5.
Leadership
Peran
manjer dalam menjalankan suatu perusahaan adalah sentral, sebab para manajerlah
yang menjadi orang yang akan mengambil keputusan-keputusan penting dalam
menjalankan seluruh aktivitas pekerjaan. Kepimpinan yang beretika menggabungkan
antara pengambilan keputusan yang beretika dan perilaku beretika : dan ini
tampak dalam konteks individu dan berorganisasi. Tanggung jawab utama daro
seorangg pemimpin adalah membuat keputusan yang beretika dan berperilaku secara
beretika pula, serta mengupayakan agar organisasi pemahami dan menerapkannya
dalam kode-kode etik.
6.
Strategi dan Performasi
Sebuah
fungsi penting dari manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi tingginya
tingkat persaingan yang mebuat perusahaannya mencapai tujuan perusahaan
terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya berbagai
kompromi etika. Sebuah perusahaan yang jelek akan memiliki kesulitan besar
untuk menyalaraskan target yang ingin dicapai perusahannya dengan
standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut
excellemt harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan- kebijakan perusahaan guna
mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.
7.
Karakter Individu
Perjalanan
hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam
menjalankan fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku dalam individu ini
tentu akan sangat mepengaruhi tindakan-tindakan mereka ditempat kerja atau
dalam menjalankan aktivitas bisnisnya semua kualitas individu nantinya akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor
pertama adalah pengaruh budaya, pengaruh budaya adalah pengaruh nilai-nilai
yang diantut dalam warganya.
Faktor
kedua adalah perilaku sesorang akan dipengaruhi oleh lingkungan yang diciptakan
dalam tempat kerjanya, diantaranya berupa aturan dan kode etik perusahaan
ditempat kerjany. Aturan dan kode etik ditempat kerja akan membimbing individu
untuk menjalankan perannya ditempat kerjanya.
Faktor
yang ketiga adalah berhubungan dengan lingkungan luar tempat dia hidup berupa
kondisi politik dan hukum, serta pengaruh-pengaruh perubahan ekonomi.
8.
Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah suatu kumpulan nilai-nilai,
norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu
organisasi. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong
tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena
kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan
tersebut, sehingga kemudian dipercayai sebagai suatu perilaku, yang bisa
ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas.
Budaya-budaya perusahaan inilah yang membantu
terbentuknya nilai dan moral ditempat kerja, juga moral yang dipakai untuk
melayani para stakeholdernya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan
yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan
D.
Norma
Etika Dalam Pemasaran, Produksi, Manajemen Sumber Daya Manusia Dan Finansial
1.
Pasar dan Perlindungan Konsumen
· Pasar
Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem,
institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur di mana usaha menjual
barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang.
·
Perlindungan Konsumen (Pasal 3) yaitu:
1)
Meningkatkan kesadaran, kemampuan,
kemandirian konsumen untuk melindungi diri;
2)
Mengangkat harkat dan martabat konsumen
dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan / atau
jasa;
3)
Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam
memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
4)
Menciptakan sistem perlindungan konsumen
unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan
informasi;
5)
Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha
mengenai pentingnya perlindungan konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggungjawab dalam berusaha;
6)
Meningkatkan kualitas barang dan / atau
jasa yang yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan / atau jasa,
kesehatan kenyaman, keamanan, keselamatan konsumen;
2. Etika
Iklan
Jadi,
secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa
yang biasa dilakukanatau ilmu tentang adat kebiasaan.Menurut Thomas M. Garret
SJ (1961 : 1), iklan dipahami sebagai aktivitas–aktivitas yang lewatnya
pesan–pesan visual atau oral disampaikan kepada khalayak dengan maksud
menginformasikan atau memengaruhi mereka untuk membeli barang dan jasa yang
diproduksi, atau untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi secara positif
terhadap idea-idea, institusi-institusi ataupribadi-pribadi yang terlibat di
dalam iklan tersebut.
3. Privasi
Konsumen
Privasi
konsumen Sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk
memperoleh pilihan pilihan atau kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang
diinginkan. privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang
secara fisik terhadap pihak pihak lain dalam rangka menyepi saja
4. Multimedia
Etika Bisnis
Etika berbisnis dalam
multimedia didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
1)
Akuntabilitas perusahaan termasuk tata
kelola perusahaan (good corporate governance) dalam pengambilan keputusan
manajerial.
2)
Tanggungjawab sosial, yang merujuk pada
peranan bisnis dalam lingkungannya, pemerintah lokal dan nasional dan kondisi
bagi karyawannya.
3)
Kepentingan stakeholder, yang mana
ditunjukan kepada kepentingan pemegang saham, owner, CEO dan pelanggan,,
supplier dan kompetitornya.
5.
Etika Produksi
Etika Produksi adalah seperangkat prinsip-prinsip
dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar dan salahnya hal hal yang dikukan
dalam proses produksi atau dalam proses penambahan nilai guna barang
6.
Pemanfaatan SDM
Dalam pemanfaatan SDM, permasalahan yang masih
dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Kualitas SDM yang sebagian besar masih rendah
atau kurang siap memasuki duniakerja atau dunia usaha.
2.
Terbatasnya jumlah lapangan
3.
Jumlah angka pengangguran yang cukup tinggi.
7.
Etika Kerja
Etika kerja adalah sistem nilai atau norma yang
digunakan oleh seluruh karyawan perusahaan, termasuk pimpinannya dalam
pelaksanaan kerja sehari-hari. Perusahaan dengan etika kerja yang baik akan
memiliki dan mengamalkan nilai-nilai, yakni : kejujuran, keterbukaan, loyalitas
kepada perusahaan, konsisten pada keputusan, dedikasi kepada stakeholder, kerja
sama yang baik, disiplin, dan bertanggung jawab.
8.
Hak-hak Pekerja
Hak
pekerja merupakan topik yang perlu dan relevan untuk dibicarakan dalam rangka
etika bisnis. Penghargaan dan jaminan terhadap hak pekerja merupakan salah satu
penerapan dari prinsip keadilan dalam bisnis. Dalam hal ini keadilan menuntut
agar semua pekerja diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing. Baik
sebagai pekerja maupun sebagai manusia, mereka tidak boleh dirugikan, dan perlu
diperlakukan secara sama tanpa diskriminasi yang tidak yang rasional. Karena
dipelaksanaan dan penegakan keadilan sangat menentukan praktek bisnis yang baik
dan etis. Yang berarti bahwa penghargaan dan jaminan atas hak pekerja sangat
ikut menentukan baik dan etisnya praktis bisnis.
9.
Hubungan saling menguntungkan
Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit
Principal) Prinsip ini menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga
menguntungkan semua pihak. Jadi, kalau prinsip keadilan menuntut agar tidak
boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya, prinsip saling
menguntungkan secara positif menuntut hal yang sama, yaitu agar semua pihak
berusaha untuk saling menguntungkan satu sama lain
10.
Persepakatan Penggunaan Dana
Pengelola perusahaan mau memberikan informasi
tentang rencana penggunaan dana sehingga penyandang dana dapat mempertimbangkan
peluang return dan resiko. Rencana penggunaan dana harus benar-benar
transparan, komunikatif dan mudah dipahami. Semua harus diatur atau ditentukan
dalam perjanjian kerja sama penyandang dana dengan alokator dana.
DAFTAR
PUSTAKA
Keraf,
Sonny. 1998. Etika Bisnis dan
Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius.
Bartens,
K. 2000. Pengantar Etika Bisnis.
Yogyakarta: Kanisius.
Rinjin,
Ketut. 2004. Etika Bisnis dan Implementasinya.
Jakarta: Gramedia Pustaka.
R,
Erni. 2007. Bussiness Ethics.
Bandung: Alfabeta.
Radito,
Bambang., dan Melia, Famiola. 2013. CSR
(Corporate Social Responsibility). Bandung: Rekayasa Sains.
Janto,
Agus Jari. 2011. Etika Bisnis Bagi Pelaku
Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dewi,
Septiani. 2016. Hakekat Mata Kuliah Etika
Bisnis (online). https://septianidewi20.wordpress.com/2016/10/02/hakekat-mata-kuliah-etika-bisnis/.
(diakses 15 Maret 2019)
Novianti,
Siti. 2015. Model Etika dalam Bisnis,
Sumber Nilai Etika dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Etika Manajerial
(online). https://sitinovianti.wordpress.com/2015/10/24/model-etika-dalam-bisnis-sumber-nilai-etika-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-etika-manajerial/.
(diakses 15 Maret 2019)
Nisa,
Anisah. 2017. Norma & etika dalam
pemasaran, produksi, manajemen SDM, & keuangan (financial) (online). http://anisahnisa15.blogspot.com/2017/05/tugas.html?m=1.
(diakses 15 Maret 2019)
0 comments:
Post a Comment